Agar Mudah Dimengerti, Kampus Perlu Giatkan Artikel Populer

 

“Perhatian masyarakat Indonesia pada teks tertulis itu paling lama 30 detik. Makanya cuma sering baca headline-nya saja. Tapi sisanya tidak dibaca,” demikian ungkap Rizqy Amelia Zein, S.Psi., M.Sc., pada workshop yang diselenggarakan oleh Direktorat Sistem Informasi (DSI) Universitas Airlangga (UNAIR), Rabu (7/8) kemarin. Menurut dosen Psikologi UNAIR ini, ketertarikan masyarakat Indonesia untuk membaca suatu artikel dari awal hingga akhir masih rendah.

Hal tersebut didukung dengan data dari survei yang dilakukan oleh OECD 2014-2015, yang menunjukkan bahwa 70% responden usia dewasa di Jakarta, telah mengalami buta huruf fungsional. Hal ini merupakan kondisi ketika seseorang bisa membaca, namun tidak memahami apa yang tengah ia baca. Seseorang yang mengalami buta huruf fungsional, hanya dapat membaca teks secara singkat.

Lebih jauh, aktivis Komunitas Sains Terbuka Airlangga ini juga menjelaskan, bahwa penyebaran pengetahuan melalui topik yang sudah familiar, akan lebih dapat dipahami oleh masyarakat. Dikatakan olehnya, bahwa masyarakat ternyata hanya bisa mendeteksi satu topik yang sederhana dari suatu teks.

“Tentu saja istilah-istilah seperti korelasi, asumsi, kemudian efek moderasi, efek mediasi atau configural invariance dan sebagainya itu, mereka tidak paham. Jadi mau tidak mau kita harus mendeskripsikan apa yang kita maksud. Misalnya, dengan efek mediasi, apa yang kita maksud dengan configural invariance,” terangnya.

Menurutnya, sebagian besar kondisi masyarakat kita, masih mudah terpengaruh berita bohong. Masyarakat hanya bisa membaca, tetapi tidak memahami makna dari berita tersebut. Bahkan opini yang ditulis oleh akademisi di koran, sejatinya hanya dapat dipahami oleh masyarakat dengan kualifikasi pendidikan tinggi.

“Jadi kalau Bapak dan Ibu mengharapkan lulusan SMA bisa membaca (tulisan akademisi, Red), saya kira itu harapan yang perlu diturunkan ekspektasinya,” tukasnya ketika menanggapi kondisi literasi masyarakat Indonesia.

Artikel Populer Dinilai Penting

Untuk itu, sebuah website terlebih dahulu harus mengenal siapa pembaca yang hendak disasar. Tentunya, bahasa ilmiah pada website Perguruan Tinggi, memang harus diubah ke dalam bentuk artikel populer. Ketika menulis artikel populer, keadaan yang harus dibayangkan oleh penulis, adalah keadaan pembaca dengan kemampuan literasi yang paling rendah. Adanya jarak antara apa yang dipahami seorang pakar dan orang awam, menjadi titik penting. Hal ini mengingat, bahwa masyarakat awam juga mengambil peran dalam perputaran informasi dari hasil temuan para akademisi. Oleh karena itu, sebagai akademisi diharapkan, untuk berperan dalam mengisi gap pengetahuan ini.

“Jadi bagaimana cara kita berkomunikasi dengan masyarakat awam ini menentukan, akan jadi apa Bangsa Indonesia ini,” simpul dosen yang juga aktif sebagai penulis di The Coversation Indonesia ini.

Dengan membuat artikel populer, science akan menjadi lebih relevan dengan masyarakat, dan ilmuwan semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Reputasi peneliti dan universitas juga dapat terangkat melalui artikel populer yang disitasi oleh pengguna.

 

“Artikel populer bisa mempertemukan keahlian akademisi dengan industri, yang akan menjadi pengguna artikel populer tersebut. Pembuat kebijakan yang membutuhkan hasil riset kalangan kampus, untuk membuat keputusan. Jadi dengan membuat hasil riset menjadi artikel populer, akademisi bisa mempengaruhi kebijakan,” jelasnya.

Artikel Populer Sesuai dengan Ragam Masyarakat

Pada sesi berikutnya, Amelia Zein juga menambahkan, bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat heterogen, dimana mempunyai banyak ragam. Tentunya hal ini akan mempengaruhi beberapa aspek yang digunakan. Gaya bahasa yang lebih mudah dicerna, merupakan salah satu poin pembeda. Karenanya, hal ini juga perlu diperhatikan ketika menulis artikel populer. Terlebih, jika artikel tersebut disarikan dari sebuah artikel ilmiah.

Penggunaan bahasa sehari-hari dan istilah tidak resmi, sangat cocok untuk diterapkan. Dengan keaneka ragaman masyarakat kita, hendaklah menghindari penggunaan bahasa slang, seperti: baper dan mutualan yang tidak diketahui oleh semua kalangan usia. Artikel populer seharusnya bisa menjawab kebutuhan masyarakat, sehingga kebutuhannya lebih cepat daripada artikel ilmiah.

 

“Hal-hal seperti ini kalau menunggu artikel ilmiah terbit, mungkin orang sudah tidak tertarik lagi. Artikel populer tentu saja akan lebih cepat menjawab kebutuhan masyarakat. Sehingga mereka juga tidak cemas atau takut atau perlu takut dan perlu cemas,” terangnya terkait berita jual-beli data yang tengah merebak di masyarakat.

Di akhir workshop, teknik story telling diperkenalkan oleh Amelia Zein, sebagai teknik yang paling bisa diterapkan untuk menulis sebuah artikel populer. “Penulis bisa menjelaskan ide yang kompleks menjadi lebih sederhana, sehingga dapat mudah dimengerti semua kalangan pembaca,” demikian pungkasnya.

Scroll to Top